Video – Interviews

Scrapping carbon tax sends bad message

ABCTV_Fitrian_17Oct2013
Indonesian climate and sustainability specialist, Fitrian Ardiansyah, says Prime Minister Tony Abbott’s plans to scrap Australia’s tax on carbon emissions sends a ‘negative signal’ to developing countries like Indonesia.
Interviewer: Auskar Surbakti
to watch the program, please click: 
———————————————

Haze Hell Over Asia

History Channel Asia, 31 March 2012, to watch the program, please click: 
Indonesia, 1997. Forest fires are ravaging across an area the size of 1.5 million football pitches, and a noxious cloud is sweeping across SE Asia. Haze Hell Over Asia tells the story of one of the worst environmental disasters in history; those who lived through it, the heroes who fought it, and how it banded peoples and nations together in common cause. Fitrian Ardiansyah was interviewed in this program as one of the experts.
See also the pdf of the summary of the program here: Haze-Hell-Over-Asia-Documentary
———————————————

Monas Gelap Gulita Dukung Earth Hour  

Indah Dian Novita, Liputan 6, SCTV, 27 Maret 2010, 23:22
Liputan6.com, Jakarta: Kawasan Monumen Nasional, Jakarta Pusat, gelap gulita pada Sabtu (27/3) sejak pukul 20.30-21.30 WIB. Lampu-lampu taman di kawasan yang selalu ramai tiap malam minggu ini dimatikan untuk mendukung kegiatan global yang digelar World Wide Fund for Nature (WWF), “60 Earth Hour”.”Satu jam ini adalah simbolisasi, kita sebagai individu punya kontribusi kepada emisi yang kita hasilkan seperti listrik. Jika listrik terus dipakai, emisinya bakal meningkat ke atmosfer bumi yang menyababkan pemanasan global dan perubahan iklim,” ujar Direktur Program Iklim dan Energi WWF Indonesia Fitrian Ardiansyah.Namun berdasarkan pantauan tim SCTV, listrik di kawasan Monas tidak padam total. Beberapa lampu lalu lintas masih menyala. Beberapa papan reklame juga sebagian masih ada yang menyala.Selain di Monas, aksi serupa dilakukan di beberapa titik lain di Jakarta. Di Jalan Jenderal Sudirman-M.H. Thamrin misalnya. Seluruh lampu penerangan jalan dipadamkan sementara. Begitu pula dengan lampu yang biasanya menerangi air mancur Bundaran Hotel Indonesia.Menurut pihak WWF lebih dari 4.000 kota di 125 negara ikut berpartisipasi dalam aksi global mematikan lampu selama satu jam. Jumlah ini lebih banyak daripada tahun sebelumnya yang hanya diikuti 88 negara.(ASW/JUM)
———————————————

Gerakan Hemat Energi Nasional (Program “Meniti Harapan” – DAAITV)

Meniti Harapan, DAAITV, 2 April 2009
Tepat pukul 20.30 WIB, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang juga menjadi Duta Earth Hour Indonesia secara simbolik mematikan lampu di pelataran Balaikota Jakarta yang menandakan dimulainya pemadan lampu selama satu jam. Meski baru pertama kali dilakukan di Indonesia, kampanye ini telah dilakukan oleh lebih 20 ribu perumahan dan 60 pengelola gedung di DKI Jakarta, Bandung, dan Bali. Hasilnya, pemadaman selama satu jam ini telah dapat menghemat 50 MW listrik hanya dari wilayah DKI Jakarta saja.Pemadaman lampu selama satu jam ini pertama kali tercetus dua tahun sebelumnya di Sydney yang didukung walikotanya dan sekitar 22 juta penduduknya. “Karena ada pemikiran bahwa salah satu kontribusi besar isu perubahan iklim adalah pemakaian energi terutama dari listrik” terang Direktur Program Perubahan Iklim dan Energi WWF-Indonesia Fitrian Ardiansyah. Kemudian pada tahun berikutnya atau pada 2008, ada sekitar 775 kota di 35 negara yang terlibat.Di tahun 2009 Jakarta, termasuk 1.000 kota di sekitar 85 negara yang terlibatt “Earth Hour” dan diperkirakan ada sekitar 1 miliar orang yang juga terlibat. Kalau semua warga Jakarta terlibat, listrik dapat dihemat sekitar 300 MW atau sebanding satu pembangkit listrik. Hal ini bisa membantu 900 desa yang belum teraliri listrik. Melihat keadaan seperti ini, perlu sekali dilakukan penyadaran tentang hemat energi tidak hanya pada tingkat mahasiswa, tapi juga anak-anak dan rumah tangga.Sekretaris PT PLN Supriyanto mengatakan program penghematan listrik ini disambut postif oleh karyawannya. Namun untuk mengubah budaya masyarakat yang biasa disubsidi listrik ini memang diakuinya sangat berat. Namun yang pasti program penghematan listrik telah dilakukan sendiri oleh penyedia perubahan listrik ini. Di antaranya bangunan gedung yang dipenuhi jendela hingga ruangan terlihat lebih terang. Tak hanya itu, lampu penerang diganti dengan hemat energi, pendingin ruangan cukup diatur tingkat sejuk dan bila akan meninggalkan kantor AC atau komputer dimatikan. Dengan upaya pemangkasan ini, Supriyanto mengatakan PLN telah menghemat sekitar Rp 120 juta.
———————————————

In conversation with Mr Fitrian Ardiansyah (Programme Director for Climate and Energy, WWF) 

27 August 2009, NTU-RSIS, Related Event: Conference on Climate Insecurities, Human Security and Social Resilience, click here for the video: http://www.rsis.edu.sg/nts/flv.asp?title=FA1&keepThis=true&TB_iframe=true&height=400&width=650

———————————————————–

Cukup Satu Jam Saja 

19 Maret 2009, Liputan 6 SCTV, klik disini untuk video: http://tv.liputan6.com/main/read/0/794958/0/

Liputan6.com, Jakarta: Apa jadinya jika satu jam saja Anda mau mematikan listrik? Kendati terlihat sepele, ternyata dampaknya sangat besar. Satu jam menghemat listrik, Anda bisa membantu menyelamatkan bumi dari pemanasan global. Ide itulah yang membuat Organisasi Konservasi Global (World Wildlife Fund/WWF) mengampanyekan Earth Hour Day atau satu jam untuk bumi.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun mendukung. Menurut Gubernur Fauzi Bowo yang tak lain duta Earth Hour Day, pada 28 Maret mendatang, mulai jam setengah sembilan hingga setengah sepuluh malam atau selama satu jam, sejumlah ikon Jakarta akan dimatikan. Beberapa tempat di kawasan Sudirman-Thamrin yang akan dimatikan lampunya antara lain Bundaran Hotel Indonesia dan air mancurnya, Monumen Nasional dan air mancurnya, Gedung Balai Kota, Patung Pemuda, air mancur Arjuna Wiwaha, dan beberapa gedung kantor swasta di Jakarta.

Menurut Program Director Climate and Energi WWF Indonesia Fitrian Ardiansyah, matinya lampu selama satu jam ternyata mampu menghemat energi listrik sebesar 300 megawatt. Tindakan ini juga bisa mengurangkan beban biaya listrik Jakarta sekitar 200 juta rupiah. Termasuk pula mengurangi emisi karbondioksida sekitar 284 ton, menyelamatkan lebih dari 284 pohon, dan menghasilkan oksigen untuk 568 orang.

Earth Hour Day sudah berlangsung tiga tahun. Program ini melibatkan 1.539 kota di dunia dengan jumlah pendukung lebih dari 50 juta orang. Kini giliran Anda? Maukah membantu menyelamatkan bumi? Cukup matikan listrik satu jam saja.(ANS/Sufiani Tanjung dan Yuli Sasmito)

———————————————————–

Proses Hukum Pembalakan Liar Dinilai Lemah  

Liputan 6 SCTV, 25 Januari 2008, klik disini untuk video:  http://tv.liputan6.com/main/read/0/690894/0/
  
Kayu ilegal yang disita.
Liputan6.com, Jakarta: Indonesia memiliki 127 juta hektare hutan. Terluas ketiga di dunia. Tetapi dengan tingkat perusakan hutan sekitar dua juta hektare setiap tahun, seharusnya pemerintah lebih waspada. Karena jika tidak, Indonesia kehilangan areal hutan seluas Pulau Bali per tahun.Menteri Kehutanan Malam Sambat Kabat mengaku ini masalah. Tapi dia optimis keadaan dapat diatasi. “Walaupun ada kerusakan hutan dari 120 juta hektare kawasan hutan kita, misalnya. Tapi kan masih ada hampir lebih 50 persen masih cukup baik, seperti kawasan konservasi,” kata Kaban di Jakarta, Jumat (25/1). Fitrian Ardiansyah, Direktur Program Iklim dan Energi WWF Indonesia, menilai pemerintah lemah dalam pemrosesan hukum para pembalak liar. Selain itu, pemerintah juga tidak punya koordinasi yang baik dalam pengawasan di lapangan.Yang pasti, 25 ribu meter kubik atau sekitar 2.500 batang kayu yang berhasil disita TNI Angkatan Darat merupakan bukti bahwa kawasan hijau Indonesia saat ini dalam kondisi kritis. Para pembalak yang tidak mau mulut pun semakin mempersulit pemberantasan pembalakan liar [baca: Ditemukan 2.500 Batang Kayu Ilegal].(BOG/Tim Liputan 6 SCTV)—————————————————————————————-

REDD: opportunities & challenges in the field

To download the video, please click here:

The Kathryn Fuller Science for Nature Fund

2007 SCIENCE FOR NATURE SYMPOSIUM:

WWF-US hosted the second annual Science for Nature Symposium in Washington, DC October 18-19, 2007. The symposium focused on the science behind Reducing Emissions from Deforestation (RED). At 13.40-14.00 on October 18th, Fitrian Ardiansyah of WWF-Indonesia presented his paper on “Opportunities and Challenges in the field (what knowledge is limiting our ability to implement policy and complete projects? what are the knowledge gaps in Indonesia?)”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s