Audio – Interviews

World Wrap 2013: Southeast Asia Haze

Radio 938 Live, Singapore | 18.12.2013

World Wrap 2013: Southeast Asia HazeIt was one of Southeast Asia’s worst ever haze crisis.

In June this year, Singapore and large parts of West Malaysia were blanketed by a record level haze caused by forest fires on Sumatra Island in Indonesia.

Several palm oil corporations were accused of lighting the fires to clear land in the Riau Province.

Hotspots across the province emitted thick black smoke that covered the skies in Malaysia and Singapore, causing alarm and prompting emergency and health safety measures.

Environment ministers from the affected countries convened urgent meetings to address the unprecedented PSI levels.

Following the discussions, the governments agreed on a new Haze Monitoring System to tackle the problem.

To find out more about the effectiveness of this system, 938LIVE’s Mubin Sa’adat spoke to Mr Chua Chin Wei, Deputy Director at the Singapore Institute of International Affairs, and Fitrian Ardiansyah, an Indonesian climate and sustainability specialist who is based at the Australian National University.

Mubin began my asking Mr Chua his opinion on the handling of the crisis by the three countries concerned.

To listen:

————————————————————————————— 

Pemilu Australia 2013 dan Isu Lingkungan

SBS Radio Australia, Bahasa Indonesia, oleh Sri Dean | 27.08.2013

Bapak Fitrian Ardiansyah, Pakar Iklim dan Kesinambungan (Independent), Koordinator dari Sinergi Indonesia yang juga kandidat PhD di Universitas Nasional Australia (ANU) berbicara tentang isu lingkungan terkait dengan PEMILU Australia 2013.

Dengarkan di:

Sejauh mana para pemilih peduli akan isu lingkungan? Apa perbedaan yang significan antara kebijakan kedua partai besar? Apakah rencana kedua partai besar terkait dengan pengembangan wilayah utara itu ramah lingkungan? Pakar lingkungan Bapak Fitrian Ardiansyah dari ANU menjelaskan semuanya itu dan isu terkait lainnya.

—————————————————————————————

Earth Hour 2012

SBS Radio Australia, Bahasa Indonesia, oleh Sri Dean | 30.03.2012

Earth Hour 2012: Bapak Fitrian Ardiansyah, kandidat PhD di ANU dan mantan direktur WWF Indonesia Program Iklim dan Energi membahas apakah Earth Hour ini benar-benar berdampak terhadap kesadaran orang akan lingkungan.

Dengarkan di:

EARTH HOUR 2012: Apakah dengan pemadaman lampu selama satu jam dapat berdampak terhadap kesadaran orang akan lingkungan? Bagaimana respon dari orang Australia dan orang Indonesia terhadap Earth Hour selama beberapa tahun ini? Apakah Earth Hour masih relevan? Bapak Fitrian Ardiansyah dari ANU menjelaskan semuanya itu serta isu terkait lainnya.

Original link: http://www.sbs.com.au/yourlanguage/indonesian/highlight/page/id/209497/t/EARTH-HOUR-2012/

—————————————————————————————

Hadiah untuk Aktivis Lingkungan Indonesia

Deutsche Welle, SOSIAL | 11.08.2011

Dua aktivis lingkungan asal Indonesia mendapat penghargaan Ramon Magsaysay.

Dengarkan di:

Dua pemerhati lingkungan Indonesia memperoleh Penghargaan Ramon Magsaysay. Mereka dihargai atas kiprahnya yang dianggap membawa pengaruh positif pada lingkungan. Mereka adalah Tri Mumpuni, yang membangun 60 pembangkit  listrik alternatif mikro hidro di kawaan pedesaaan. Dan yang kedua adalah Tuan Guru Haji Hasanain Juaini, yang lewat pesantrennya di Lombok, mengorganisir massa untuk mengembangkankan konservasi hutan dan air.

Mengenai kiprah keduanya, berikut wawancara dengan Fitrian Ardiansyah, pengamat lingkungan dan kandidat doktor di Australian National University.

Ayu Purwaningsih

Editor : Linardy

Original link: http://www.dw-world.de/dw/article/0,,15312035,00.html

—————————————————————————————

Indonesia declares a two year moratoruim on deforestation

Updated May 28, 2010 12:18:53

Indonesia has announced a landmark two-year moratorium on deforestation, after a massive injection of funds by foreign nations. Fifty-two countries at a conference in Oslo agreed to funnel aid money to save forests …. a move that some are calling the first concrete action on climate change since Copenhagen. For his part of the deal, President Susilo Bambang Yudhoyono says his government will stop issuing new concessions for peatlands and natural forests. The decision is part of a deal reached with Norway, which will contribute up to one billion dollars towards forest conservation.

Presenter: Sen Lam
Speakers: Fitrian Ardiansyah, climate and energy director for the World Wildlife Fund Indonesia

Listen:

LAM: Fitrian, Indonesia of course accounts for a large portion of the world’s deforestation and logging is a huge money earner for Indonesia. What makes this new deal more appealing than previous proposals?

ARDIANSYAH: Well, I do believe first of all this is the most significant contribution until now, that the Indonesian Government or an Indonesian as a country has received from foreign nations to support the country to address deforestation and peatland conversion of peatland degradation. I mean usually we get some support around millions of dollars or hundred of million of dollars, but this is like a billion dollars. So it is a good time for Indonesia to review the plans, the process of Indonesian development, especially spatial planning whereby a lot of decisions have been made, previously that have resulted in massive conversions of forests and peatlands and that has contributed to the emissions to the atmosphere for instance. So it is timely for Indonesia to really get its act together to review all the process, all the permits that can help Indonesia in reducing deforestation and peatland degradation in the future.

LAM: Well, one Billion dollars sounds like a lot of money, but it does have to be spread over several sectors and over a period of time. How confident are you that it will work?

ARDIANSYAH: Oh, there are some preconditions that I perceive that the Indonesian Government has to like let’s say develop before this money can be implemented or can be used to implement REDD on the ground. First of all, I believe the Indonesian Government has to set up a good governance system, whereby a credible institutional arrangement can be put in place, covering different sectors that have been involved in the land use and spatial planning previously is not only the forestry sector, but also the agriculture, mining, infrastructure and different types of sectors. But it needs also to ensure the involvement of civil society as well local and indigenous communities, otherwise this will result in insensitivity and will not create a good REDD implementation.

LAM: Indeed, this issue of new concessions. Will they be stopped immediately or will it take time for it to trickle down?

ARDIANSYAH: Eh, if I am not mistaken, when I saw the agreement, it will directly be put on hold since January 2011, so there is still a way for concession to be done from now till January, so there is sitll a little bit of a loophole. But we need to make sure that the president when he comes back to Indonesia, he put directly the brake on this new permit issues right away rather than waiting for January 2011, for instance.

LAM: Well, it’s been said that poverty is a huge contributing factor to deforestation. Do we know how much of that money will be spent on providing locals and local communities alternative livelihoods?

ARDIANSYAH: Well, this is something that we are going to ask the government, because there is some sort of promise that there will be the disbursements of this money coming directly to those that are really protecting and managing forests on the ground, including local and indigenous communities, but we have not got the clear percentage of how much that will be dispersed to this actors. But besides poverty relief, investment, big investment coming from private sector it is also one of the biggest challenge. How can this money from Norway or any other foreign nation can compete with this opportunity costs coming from this type of investment. So we need to balance this issue relating to poverty and also the issue relating to commodities investment.

Original link: http://www.radioaustralia.net.au/connectasia/stories/201005/s2912088.htm

—————————————————————————————

Sikap Indonesia dalam Mekanisme REDD

Deutsche Welle, SOSIAL | 18.02.2009

Konferensi Iklim Internasional, yang saat ini berlangsung di Kopenhagen, Denmark, diharapkan menghasilkan kesepakatan baru dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.

Dengarkan di:

Konferensi Iklim Internasional, yang saat ini berlangsung di Kopenhagen, Denmark, diharapkan menghasilkan kesepakatan baru dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.

Mekanisme REDD atau Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan diharapkan menjadi salah satu bagian dari kesepakatan dalam Konferensi Iklim Internasional. Di balik istilah ini terdapat gagasan, di masa depan negara-negara pemilik hutan akan diganjar bantuan jika mereka melindungi hutannya.

Wawancara DW bersama Fitrian Ardiansyah dari lembaga pemerhati WWF yang mengikuti perundingan iklim di Kopenhagen, Denmark.

Ayu Purwaningsih

Editor: Yuniman Farid

Original link: http://www.dw.de/dw/article/0,,5037026,00.html

—————————————————————————————

Gaya Hidup Vegetarian dan Pemanasan Bumi

Reporter KBR68H Antonius Eko11-12-2008

Silakan dengar dokumen audio: Gaya Hidup Vegetarian dan Pemanasan Bumi (Radio Nederland)

…Fitrian Ardiansyah: Umur saya 34 saat ini. Selama 30 tahun kita makannya sop buntut, soto kambing dan sebagainya. Ada perasaan yang hilang, sensasi itu hilang. Tapi kemudian selama seminggu berikutnya, ketika kita sudah menemukan alternatif pengganti kok lumayan ya. Kita merasa lebih segar, lebih tenang. Badan lebih ringan terutama karena berat badan turun, olah raga kita nggak kehabisan nafas. Selama ini saya fikir saya cukup senang dan sehat, pikiran lebih jernih tidak pusing karena alasan ekonomi.

Bahaya racun
Selain badan sehat, kalau jadi vegetarian kantong juga ikutan sehat. Fitrian sudah berhitung cermat soal ini. Uang untuk beli daging jauh lebih banyak ketimbang untuk beli sayuran.

Fitrian: Alasan ekonomi, tentunya. Harga daging kemarin lebaran 80 ribu per kilogram. Kemudian ayam juga mahal. Dengan adanya selisih income yang bisa disimpan, sekarang bisa punya kemampuan untuk beli sayur-sayuran yang organik. Pertama lebih sehat kedua membantu petani lokal.

…Peternakan juga dituding penyebab utama kerusakan tanah dan polusi air. Fitrian Ardiansyah, Direktur Program Iklim dan Energi WWF Indonesia mengatakan, saat ini 30 persen lahan di bumi dipakai peternakan. Ditambah lagi pembukaan lahan untuk peternakan, makanya hutan di Brasil ikut rusak.

Fitrian Ardiansyah: Di mana ada hubungan yang cukup signifikan antara ekspansi industri peternakan dengan deforestasi yang juga akan berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca karena akibat tekanan lahan industri peternakan yang ada di Brazil misalnya, makin menjarah lahan-lahan yang sebernarnya sangat terlindungi di hutan-hutan Amazon, karena lahan-lahan yang lain sudah dipakai untuk industri biofuel lewat perkebunan tebu.

…Di Indonesia, kata Direktur WWF Fitrian, kasus perusakan hutan memang belum terlalu parah. Tapi coba cermati kesehatan masyarakat sekitar peternakan. Ada banyak kasus flu burung atau antrax.

Sayang masih sedikit upaya membuat industri peternakan lebih ramah lingkungan. Fitrian Ardiansyah dari WWF Indonesia mengatakan, banyak negara lebih fokus menanggulangi pemanasan global dari sisi penghematan listrik dan transportasi massal.

Fitrian Ardiansyah: Yang saya lihat adalah pengetahuan sudah ada. Tapi mereka mencantumkan beberapa prioritas. Prioritas utama adalah tadi karena kuantitas CO2nya banyak maka pembangkit listrik coba diubah menjadi lebih terbarukan. Kemudian transportasi juga hybrid car dan sebagainya dan industri peternakan baru beberapa tahun terakhir ini diekspos media.

Original link:http://static.rnw.nl/migratie/www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/gaya_hidup_vegetarian20081211-redirected

—————————————————————————————

Proyek lahan gambut dihidupkan

oleh Yusuf ArifinBBC Siaran Indonesia, 16 Feb 2007

Silakan dengar dokumen audio:Proyek lahan gambut dihidupkan (BBC Siaran Indonesia)

…Bagaimanapun Koordinator Pemulihan Hutan dan Mitigasi Bencana dari WWF, Fitrian Ardiansyah, tetap mempertanyakan kebijakan untuk menghidupkan kembali proyek lahan gambut ini.

“Kami heran, kenapa pemerintah tidak belajar dari kesalahan masa lalu. Kalau kita lihat kebakaran hutan, maka sebagian besar terjadi di kawasan lahan gambut yang sudah mengering,” kata Fitrian.

…Dan Fitrian Ardiansyah berharap pemerintah lebih berhati-hati dalam mengkonversi lahan gambut sebagai areal pertanian.

Original link: http://www.bbc.co.uk/indonesian/indepth/story/2007/02/printable/070215_lahangambut.shtml

—————————————————————————————

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s